Australian Partnership Scholarship (APS) adalah beasiswa yang diberikan pemerintah Australia untuk dua tahun keberangkatan, 2006 dan 2007. Beasiswa ini diberikan khusus bagi Indonesia setelah terjadinya bencana tsunami di Aceh pada 2004. Dengan demikian Indonesia memperoleh kuota beasiswa AusAid dua kali lebih banyak dibanding tahun – tahun sebelum dan sesudahnya. APS selama dua tahun menambah jatah beasiswa rutin , Australian Development Scholarship atau ADS (sekarang ADS dikenal dengan nama Australia Awards Scholarships, AAS).
Penulis memperoleh kesempatan menjadi salah seorang kandidat ADS tahun 2004 yang diberikan kesempatan untuk memperoleh beasiswa APS pada 2016. Para kandidat ADS tahun 2004 yang dinyatakan gagal, namun memiliki nilai yang baik, dipanggil untuk langsung mengikuti kegiatan persiapan keberangkatan, Pre-departure Training, tanpa harus melewati seleksi seperti penerima beasiswa APS lainnya. AusAid mengunakan data ADS tahun 2004 sebagai salah satu cara untuk menentukan kandidat penerima beasiswa APS 2005 (keberangkatan 2006). Penulis dan beberapa orang teman memperoleh kesempatan tersebut.
Dari pengalaman ini, penulis semakin menyadari bahwa sebagai seorang hamba, berserah diri kepada Yang Maha Kuasa merupakan satu – satunya cara terbaik yang harus penulis pilih untuk menjalani kehidupan. Teringat betapa sedihnya ketika menerima pemberitahuan tidak lulus seleksi ADS 2004, sementara ada teman yang memiliki nilai IELTS lebih rendah, tetapi diterima. Ada rasa kecewa karena pemberi beasiswa tidak menjadikan guru SMA sebagai salah satu sektor prioritas. Dosen, peneliti dan pejabat pengambil keputusan merupakan sektor – sektor yang lebih diprioritaskan untuk program post-graduate. Tetapi ternyata, memang benar, tidak ada salahnya mencoba dan pintu rezeki bisa berasal dari mana saja.
Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa akan ada bencana besar, seperti Tsunami Aceh (mudah – mudahan tidak akan pernah ada lagi). Ada perasan sedih bahwa kesempatan memperoleh beasiswa APS adalah salah satunya dikarenakan bencana tersebut. Tapi, sekali lagi sebagai hamba, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah untuk selalu berusaha menjalani setiap kesempatan sebaiknya yang kita bisa dan bersyukur.
Maka, setelah mengikuti pelatihan sebelum keberangkatan di Jakarta berupa pelatihan Bahasa Inggris untuk akademik (EAP, English for Academic Purpose), penulis kemudian memilih University of Queensland sebagai universitas tujuan. Sebagai guru Bahasa Inggris, penulis memutuskan mengambil juruan Applied Linguistics dan kuliah selama 1.5 tahun. Pada saat itu penulis belajar menuliskan beberapa pengalaman selama di Brisbane dan mengirimkan ke KoKi (komunitas Kompas yang sekarang sepertinya berubah nama menjadi Kompasiana) dan menulis beberapa hal sederhana di sebuah Blog.
Hal ini juga menjadi salah satu catatan bagi penulis sekarang. Setelah kembali ke Indonesia dan bekerja, sepertinya banyak hal – hal baik yang biasanya dilakukan di perantauan tidak lagi dilakukan setelah pulang. Mudah – mudahan nanti setelah menyelesaikan program studi dan kembali ke Indonesia, hal – hal baik yang penulis pelajari dan coba jalani selama di Brisbane akan tetap bisa dilakukan di Indonesia, amiin…
