Pengalaman LGD
Tahapan lain dari rangkaian seleksi LPDP yang sering ditanyakan adalah LGD (Leaderless Group Discussion). Ketika penulis dinyatakan lulus seleksi ADM dan diundang untuk mengikuti tahapan tes berikutnya ke Jakarta, LGD adalah jenis tes yang belum pernah penulis dengar dan alami sebelumnya. Penulis mencoba browsing di internet, dan menemukan beberapa tips tetapi tetap masih belum memahami akan seperti apa tesnya.
Maka ketika menghadiri tes di STAN Bintaro, penulis sangat was-was dengan tes ini. Setelah tes wawancara dan menulis, penulis mencoba mencari peserta lain yang akan menjalani tes LGD dengan kelompok yang sama dengan penulis. Dalam salah satu tips yang penulis baca, akan lebih baik kalau mengenal peserta tes LGD yang satu kelompok. Ternyata, anggota kelompok kami sangat aktif, saling mencari. Maka kami dengan riang gembira saling mengenal dan merencanakan akan seperti baiknya diskusi kami nantinya. Kita menyepakati bahwa tidak boleh ada yang mendominasi dan kalau bisa kesempatan berbicara dibagi sama rata.
Maka setelah kami dipersilakan memasukiruangan tes, kami membaca paragraf pengantar topik diskusi dan kemudian saling lirik,siapa yang akan memulai. Dan sesuai kesepakatan, kami masing – masing mencobabermain peran. Penulis pribadi merasa diskusi tidak berjalan alami.
Setelah pengumuman hasil seleksidiberitahukan, dari kelompok kami hanya ada satu orang yang dinyatakan lulus. Dan setelahpenulis meminta hasil tes kepada LPDP, secara keseluruhan nilai penulis 1.5 dibawah nilai minimal dengan rincian nilai LGD sangat jelek, wawancara sangat baik dan writing bernilai baik/standar, seperti nilai yang biasa penulis peroleh untuk tes menulis pada TOEFL dan IELTS.
Maka, ketika penulis mendapatkesempatan kedua untuk mengikuti seleksi LPDP batch berikutnya, konsentrasi penulisadalah untuk memperbaiki nilai LGD. Menurut penulis, harusnya penulis santaisaja dengan tes ini karena setiap hari sebenarnya penulis menjalani LGD dikelas.
Untuk tes kedua, penulis tidak lagi berkumpul dengan peserta lain sebelum tes LGD. Selain karena penulis ingin pengalaman LGD yang berbeda dari sebelumnya dan lebih alami, penulis juga tidak memiliki waktu yang cukup untuk datang ke ruang tes LGD lebih awal. Penulis baru bisa sampai di ruangan sekitar 10 menit sebelum tes dimulai. Dengan demikian,penulis hanya bisa saling menyapa dengan peserta lain. Kemudian, kami dipersilakan memasuki ruangan diskusi, dengan 2 orang psikolog yang sudah menunggu.
Kami diberikan topik yang harus didiskusikan. Setelah penulis selesai membaca,penulis menanyakan kepada peserta lain jika mereka juga sudah selesai dan jika diskusi sudah dapat dimulai. Ketika itu, penulis tidak lagi berpikir LGD sebagai sebuah tes, tetapi seperti diskusi yang biasa penulis lakukan bersama siswa/i di sekolah. Setelah waktu hampir habis, penulis kembali menanyakan jika diskusi sudah bisa ditutup dan jika ada yang ingin menyampaikan kesimpulan. Penulis merasa seperti berada di dalam kelas, dan seperti yang penulis rencanakan, pengalaman LGD kedua berbeda dengan pengalaman pertama. Hasilnya, penulis dinyatakan lulus seleksi beasiswa BPI Regular LPDP batch 4, 2016. Alhamdulillaah…
Namun, penulis yakin bahwa pengalaman setiap peserta pasti berbeda- beda. Bagi penulis, dengan mengikuti dua kali tes BPI LPDP, penulis memperoleh kesempatan untuk bereksperimen melakukan perubahan strategi melakukan LGD. Perubahan tersebut dengan tidak menjadikan LGD sebagai tes seperti pada waktu tes pertaman, melainkan berusaha untuk menjalaninya sealami mungkin, seperti ketika penulis berada di dalam kelas.
