Fulbright adalah beasiswa yang diberikan oleh pemerintah Amerika dan dikategorikan sebagai salah salah satu beasiswa yang bonafide. Di Indonesia, penulis lebih mengenal beasiswa ini dengan Fulbrigt AMINEF.
Pada 2013, penulis membaca sebuah berita tentang ILEP (International Leaders in
Education Program), yaitu sebuah program yang ditawarkan untuk guru – guru Indonesia dan negara – negara lain untuk mengikuti kegiatan pengembangan profesi non – gelar di universitas di Amerika. Pendaftaran program biasanya dibuka awal tahun dan ditutup April dan keberangkatan ke Amerika Januari tahun berikutnya. Program berupa seminar – seminar tentang metodologi dan strategi mengajar, kepemimpinan, pengembangan kurikulum, penyusunan Rencana Pengajaran, dan penggunaan teknologi dalam pengajaran. Kegiatan dilakukan selama 1 semester, Januari – Mai.
Namun, pada saat itu penulis mengalami dilema untuk mendaftar karena dituliskan bahwa kesempatan lebih diutamakan untuk guru – guru yang belum pernah ke luar negeri. Penulis mencoba meminta saran kepada kawan – kawan, dan ada 2 saran. Yang pertama, lupakan tentang gelar master di Australia yang sudah diperoleh dengan beasiswa APS, tidak perlu dilampirkan di dalam aplikasi. Saran kedua, jujur dan jangan tamak.
Penulis kemudian mengirimkan aplikasi dengan tidak menuliskan gelar master S2 di Australia. Penulis memiliki misi, ingin menyampaikan pendapat penulis bahwa seharusnya tidak ada pembatasan (prioritas untuk guru yang belum pernah ke LN) karena penulis juga merasa perlu. Bagi penulis, jika dipanggil mengikuti wawancara, penulis akan jujur dan menyampaikan uneg – uneg yang penulis rasakan.
Alhamdulillah, penulis diundang untuk mengikuti wawancara dan tes iBT TOEFL ke kantor Aminef di Jakarta. Penulis kemudian memulai interview dengan memperkenalkan diri dan menyampaikan maaf karena penulis sadar telah bersikap tidak jujur. Penulis akan menerima keputusan untuk dinyatakan tidak lulus seleksi. Namun, penulis meminta diberikan kesempatan untuk menjelaskan. Penulis menyampaikan bahwa penulis memutuskan melakukan hal tersebut karena merasa kebanyakan beasiswa tidak memberikan kesempatan yang sama kepada guru untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2, apalagi S3.
Penulis memperoleh kesempatan beasiswa S2 karena adanya bencana dan penulis tidak menginginkan alasan yang sama untuk penulis memperoleh kesempatan untuk melanjutkan pendidikan S3. Penulis telah mencoba mengikuti tes ALA (Australian Leadership Awards) tahun 2012 dan dinyatakan lulus sampai tahap wawancara. Namun kemudian tidak lulus seleksi. Salah satu faktornya adalah karena yang diutamakan adalah dosen, peneliti dan pengambil keputusan. Jika seorang guru, seperti penulis, ingin memenangkan persaingan, kami guru harus memiliki kemampuan sangat luar biasa sehingga bisa mengalahkan sektor prioritas. Karena itu penulis mempertanyakan kepada pewawancara, apa yang harus penulis lakukan. Di satu sisi, program – program pengembangan profesi guru, seperti ILEP, membatasi peluang penulis. Di sisi lain, beasiswa untuk S3 juga lebih mengutamakan sektor lain dan sebagai guru kesempatan penulis akan sangat kecil dibanding sektor prioritas.
Wawancara berlangsung santai dan penulis diberikan kesempatan menyampaikan pendapat, seperti yang sudah penulis rencanakan dari awal. Setelah wawancara selesai, salah seorang pewawancara ikut keluar bersama penulis dan memberikan informasi tentang beasiswa S3 Fulbright di Amerika. Beliau mengambilkan beberapa brosur dan menantang penulis untuk ikut seleksi Fulbright 2014.
Singkat cerita, penulis mengikuti seleksi Fulbright Presidential Program Scholarship tahun 2014 dan dinyatakan lulus sebagai salah seorang principal candidate untuk tahun keberangkatan 2015. Langkah selanjutnya adalah mengikuti tes GRE, sebagai salah satu syarat pendaftaran di unversitas di Amerika selain TOEFL sebelum mendaftar ke universitas yang dipilih. Setiap kandidat diberikan kesempatan untuk memilih lima universitas. Penulis memilih South Carolina University, Northern Arizona University, Maryland College Park, Indiana University of Pennsylvania dan Michigan State University.
Untuk pemilihan universitas, penulis mempertimbagkan beberapa hal. Selain pertimbagan program yang ingin dipilih, Applied Linguistics, penulis juga mempertimbangkan kenyamanan dari segi cuaca dan keberadaan komunitas Islam. Ada perasaan was – was dan ragu – ragu dengan keamanan sebagai seorang Muslim. Namun, penulis kurang mempertimbagkan tingkat persaingan di setiap universitas. Walaupun nilai iBT TOEFL dan GRE terpenuhi, kelima universitas mengirimkan balasan bahwa penulis belum diterima karena adanya kandidat lain dari seluruh dunia yang memiliki nilai lebih baik. Dengan kata lain, penulis kalah bersaing. Dan menurut mbak Rianti (atau mbak Alise?) dari Aminef, hal ini merupakan kasus langka dan bisa dikategorikan menjadi kasus pertama bahwa kandidat gagal diterima di universitas.
Tahun berikutnya, 2015, penulis kembali mengikuti seleksi Fulbright untuk tahun keberangkatan 2016. Penulis berpikir bahwa penulis tidak perlu melakukan persiapan yang berbeda karena pengalaman ketika mengikuti interview 2015, penulis merasa rileks. Namun, ternyata berbeda dari tahun sebelumnya, ada lebih banyak interviewer dan kesiapan proposal penulis juga ditanya dengan sangat detail (hal yang penulis abaikan dengan tetap menggunakan proposal yang sama, kelanjutan disertasi master, dan tidak membaca ulang sebelum interview). Pada awal interview, penulis ditanya pengalaman tahun 2014, dan diapresiasi dengan inisiatif penulis untuk menghubungi universitas yang menolak dan meminta saran untuk perbaikan. Namun, di akhir wawancara, ketika salah seorang interviewer tiba – tiba bertanya tentang proposal, penulis merasa tidak siap.
Dengan pengalaman ini, penulis banyak belajar. Pertama, lagi – lagi tidak ada salahnya mencoba. Kedua, jangan sombong (mungkin penulis secara tidak sadar, telah terbersit rasa sombong dengan beasiswa yang sudah di tangan, dan kemudian juga tidak mempersiapkan diri lebih baik ketika wawancara di tahun kedua). Ketiga, jangan ragu – ragu karena memang mungkin keraguan penulis terhadap isu keamanan di Amerika bisa jadi menjadi salah satu faktor kegagalan. Terakhir, tetap bersyukur.
Tiga tahun penulis bolak-balik ke kantor Aminef, rasanya luar biasa sekali. Bertemu kawan – kawan hebat. Ada Mega Susilawati, seorang guru di Pessel yang bertemu di bandara Padang pada saat keberangkatan menuju Jakarta untuk tes wawancara ILEP. Mega lulus seleksi ILEP dan memperoleh kesempatan mengikuti program selama 6 bulan di Amerika. Kemudian ada mbak Ade Alimah, teman sekamar ketika tes wawancara Fulbright yang sekarang sedang menyelesaikan studi beliau di Albany, New York. Ada juga, Marson Rubianto Eka Putra, seorang dokter dari Mimika. Marson telah menyelesaikan program master di Iowa State University dan sekarang kembali kesana untuk program doctoral. Mbak Marpaleni, melanjutkan studi beliau di Flinders Univesrity, dan sekarang telah selesai. Beliau adalah teman yang sama – sama mengikuti tes TOEFL untuk program beasiswa Fulbright, namun kemudian memilih untuk kembali ke Australia dengan beasiswa LPDP. Selain mbak Leni, ada juga seorang teman lain yang memutuskan untuk memilih melanjutkan studinya di Turki dan mundur dari Fulbright, Berto Usman. Mudah – mudahan teman – teman ini tidak akan keberatan nama – namanya dicantumkan disini dan jika ada yang ingin berkoresponden, mereka mudah- mudahan juga bersedia. Yang jelas, bagi penulis pribadi, berkenalan dengan mereka dan kadang kini sekali – kali saling menyapa dan berbagi kabar, adalah hal yang luar biasa dan menjadi obat bagi kegagalan penulis memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan ke USA dan motivasi untuk terus berusaha.
