Sejujurnya bagi penulis, belajar lebih sering tidak menyenangkan dan semenarik membaca novel atau menonton KDrama 😀
Pada bulan – bulan terakhir program master, penulis bersama teman satu unit, Verni, berjanji bahwa kita akan mengkhatamkan belajar setelah memperoleh gelar master. Kita merasa jenuh dan letih karena serasa selalu dikejar – kejar deadline.
Setelah 10 tahun, akhirnya penulis kembali memperoleh kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Motivasi terbesarnya adalah karena penulis merasa gagal menjadi guru yang baik. Maka, untuk memperbaiki kegagalan tersebut, penulis putuskan untuk kembali belajar. Pikir penulis, untuk menjadi guru yang baik, penulis harus bisa memberikan contoh. Setiap hari, untuk memotivasi siswa/i belajar Bahasa Inggris, penulis selalu mengatakan betapa dengan Bahasa Inggris orang bisa pergi kemana – mana yang mereka inginkan. Penulis tidak punya sarana lain untuk membuktikan hal tersebut, selain dengan berburu beasiswa sehingga bisa membuktikan bahwa bahasa Inggris mengantarkan penulis ‘kemana – mana. Maka, mungkin terdengar klise, tapi memang demikianlah motivasi penulis memutuskan kembali ke kampus: untuk memotivasi keluarga dan siswa/i agar memiliki semangat belajar dan menguasai bahasa Inggris.
Setelah 10 tahun tanpa artikel dan diskusi ilmiah dan kemudian kembali ke kampus, penulis merasa tidak percaya diri dan mengalami PhD impostor syndrom. Pertanyaan, seperti apakah memang ini pilihan yang terbaik dan yang harus dijalani, sering muncul. Untuk mengatasi hal ini, pembimbing kemudian menyarankan penulis untuk kembali mengikuti perkuliahan pada 2 semester awal, sambil mempersiapkan proposal untuk millestone pertama, yaitu konfirmasi PhD.
Untuk semester pertama, penulis enrol mata kuliah Academic English & Thesis Writing for International Students dengan lima jenis tugas / penilaian, 2 oral (partisipasi di kelas/seminar dan presentasi) dan 3 tertulis (Research Project Online, Article Review, dan Literature Review).
Pada semester kedua, penulis mengambil mata kuliah Critical Reasoning yang salah satu tujuannya untuk melatih berikir logis. Di dalam kelas, suatu saat dosen, Peter Ellerton, bercerita tentang pengalamannya mendampingi beberapa tamu dari Indonesia. Dari pertemuan tersebut, Peter menyimpulkan bahwa tradisi berpikir logis mungkin memang belum menjadi tradisi semua orang. Namun menurutnya, hal ini bisa dikembangkan dengan cara terus-menerus melakukan latihan.
Dengan jumlah mahasiswa sekitar 13 orang, mayoritas mahasiswa internasional, suasana perkuliahan terasa santai, namun mungkin juga membuat Peter kurang puas karena kurangnya interaksi. Sebagian besar mahasiswa adalah dari Asia, dan kadang tidak terjadi dialog seperti yang diharapkan Peter. Karena itu, suatu saat dia menawarkan tutorial diadakan di sebuah cafe dan semua minuman dibayarkan Peter. Tutorial hari itu menjadi satu- satunya pertemuan dengan semua mahasiswa yang hadir ikut berbicara.
Untuk penilaian kelas Critical Reasoning ini, ada tiga tugas yang diberikan yaitu: ujian (25%), Media Analysis (25%) dan Argumentative Essay (50%).
Kini, semua perkuliahan dengan tugas – tugasnya telah selesai, untuk dilanjutkan dengan penyiapan dokumen, presentasi dan wawancara konfirmasi. Harapannya semoga pengalamannya tidak akan jauh berbeda dengan ketika ada perasaan ragu – ragu dengan perkuliahan, tetapi alhamdulillah semua terlewati dengan baik (6/7, Distinction). Mudah-mudahan rasa was-was untuk konfirmasi juga segera berlalu dan berhasil dilewati dengan baik. Amiin…
